![]() |
| Noin SAN alias Nene Noni |
Di sebuah rumah sederhana, ada seorang perempuan tua yang tangannya tidak pernah lelah.
Tangannya kasar karena kerja, tapi lembut saat mengusap kepala anaknya.
Orang memanggilnya Nenek Noni atau Sebutan orang- orang dikalangan mereka adalah Noin San, demikian tertulis pada tanggal kirinya dengan tinta Hitam, [Tato Nama]
Noin San dalam sebutannya, diambil dari Nama Lengkap Susana Tahun, Putri Tertua dari Felipus Tahun.Alm dan Levernia Babis,Alm. Iya kelahiran Oepope pada Tahun 1965, yang kemudian berdomisili di Desa Billa, Kecamatan Amanuban Timur Kabupaten Timor Tengah Selatan Prov NTT.
Susana Tahun adalah Istri dari Pasangan Nikah Antonius Missa, Mantan/Pensiunan Pengawas TK.SD/Mi [2003-2023] Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Timor Tengah Selatan. Yang kala itu dijuluki kepala Dinas P dan K TTS dengan sebutan Anak Nakal TTS. [Pada kalangan Pengawas]
Pasangan Suami Istri Anthonius Missa dan Susana Tahun, memiliki Enam Orang anak. ...
Susana Tahun, bukan wanita yang punya gelar tinggi. Ia bukan wanita yang punya banyak uang.
Tapi ia adalah *penenun terhebat* yang pernah aku kenal.
Setiap pagi, sebelum ayam berkokok, ia sudah bangun. Dengan segelas kopi dan saku siri pinang, selalu saja menemaninya disetiap pagi saat bangun tidur. Kebiasaan nya unik, setelah membersihkan mulutnya segelas kopi akan disambarnya, "kasi panas dada" kemudian di sambar lagi dengan sirip alias siri pinang. Itu menjadi rutinitas yang tak pernah hilang dari kebiasaannya.
Selanjutnya ia bergegas ke Dapur dan mulai memasak, dengan *menganyam sarapan* dari beras, garam, dan doa.
[....]
Di ruang tamu ia *menenun waktu* untuk mendengarkan PR, keluh kesah, dan tawa anak-anaknya.
Benang yang ia pakai bukan benang biasa.
Benangnya adalah kesabaran.
Warnanya adalah kasih.
Alat tenunnya adalah air mata yang ia tahan, dan peluk yang ia berikan di malam hari.
Ada hari dimana benangnya kusut.
Tapi ia tidak berhenti.
Ia duduk lagi.
Ia rapikan simpul yang lepas satu-satu.
Sambil berbisik: _"Nak, hidup ini memang begitu. Kadang menganyam, kadang membongkar. Tapi kita tidak boleh berhenti menenun sampai jadi selembar kain yang indah."_
Ia mendidik dengan cara menganyam.
Setiap teguran ia anyam jadi pagar agar anaknya tidak jatuh ke jurang.
Setiap pujian ia tenun jadi sayap agar anaknya berani terbang.
Setiap luka ia sulam jadi cerita agar anaknya tahu, bahwa kuat itu bukan tidak pernah jatuh.
Tahun berganti.
Anak-anaknya tumbuh.
Ada yang jadi guru, ada yang jadi wiraswasta
Mereka pergi membawa selembar "kain" yang ditenun ibunya.
Kain yang isinya adab, kerja keras, dan iman.
Suatu hari, si bungsu dan kedua pulang membawa kabar bahwa keduanya sudah berhasil menjadi abdi negara walau hanya guru PPPK. Tapi semuanya menjadi kebanggaannya. "Penting kamu dua sudah menjadi PNS, dan doa serta Harapan semoga adik adikmu yang lain bisa menyusul kalian berdua.." demikian harapan dan doanya.
Sebuah peluan ibunya terasa di sana dengan ekspresi senyuman bercampur haru sambil berkata: "apa masih ada peluang untuk adik adik kamu...?
"Iya, kata si sulung" Dengan Diam dan pandangan matanya berkaca, seolah-olah ingin berkata lagi, tapi ...
Ia tahu, ia bukan wanita terkaya.
Tapi ia adalah *wanita terkuat*.
Karena dari sepasang yang kuat, ia berhasil *menganyam masa depan* dan *menenun keberhasilan* untuk anak-anaknya.
Dan tenunan itu... tidak akan pernah luntur, meski dicuci badai seberapapun.
---
*Intinya:*
Wanita terkuat bukan yang tidak pernah menangis.
Tapi yang tetap *menenun harapan* di tengah air matanya, demi anak-anaknya.
